{"version":"1.0","provider_name":"Health Guidance Indonesia","provider_url":"https:\/\/healthliteracyasia.com\/id","author_name":"okisetiono","author_url":"https:\/\/healthliteracyasia.com\/id\/author\/okisetiono\/","title":"Remaja Mager? Hati-hati Risiko Diabetes &amp; Hipertensi! - Health Guidance Indonesia","type":"rich","width":600,"height":338,"html":"<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"L7J0NuAfXj\"><a href=\"https:\/\/healthliteracyasia.com\/id\/2025\/12\/31\/remaja-mager-hati-hati-risiko-diabetes-hipertensi\/\">Remaja Mager? Hati-hati Risiko Diabetes &amp; Hipertensi!<\/a><\/blockquote><iframe sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" src=\"https:\/\/healthliteracyasia.com\/id\/2025\/12\/31\/remaja-mager-hati-hati-risiko-diabetes-hipertensi\/embed\/#?secret=L7J0NuAfXj\" width=\"600\" height=\"338\" title=\"&#8220;Remaja Mager? Hati-hati Risiko Diabetes &amp; Hipertensi!&#8221; &#8212; Health Guidance Indonesia\" data-secret=\"L7J0NuAfXj\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" class=\"wp-embedded-content\"><\/iframe><script type=\"text\/javascript\">\n\/* <![CDATA[ *\/\n\/*! This file is auto-generated *\/\n!function(d,l){\"use strict\";l.querySelector&&d.addEventListener&&\"undefined\"!=typeof URL&&(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&&!\/[^a-zA-Z0-9]\/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),c=new RegExp(\"^https?:$\",\"i\"),i=0;i<o.length;i++)o[i].style.display=\"none\";for(i=0;i<a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&&(s.removeAttribute(\"style\"),\"height\"===t.message?(1e3<(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r<200&&(r=200),s.height=r):\"link\"===t.message&&(r=new URL(s.getAttribute(\"src\")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&&n.host===r.host&&l.activeElement===s&&(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener(\"message\",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener(\"DOMContentLoaded\",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll(\"iframe.wp-embedded-content\"),r=0;r<s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute(\"data-secret\"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+=\"#?secret=\"+t,e.setAttribute(\"data-secret\",t)),e.contentWindow.postMessage({message:\"ready\",secret:t},\"*\")},!1)))}(window,document);\n\/\/# sourceURL=https:\/\/healthliteracyasia.com\/id\/wp-includes\/js\/wp-embed.min.js\n\/* ]]> *\/\n<\/script>\n","thumbnail_url":"https:\/\/healthliteracyasia.com\/id\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/01\/VIDEO-NIS.png","thumbnail_width":2048,"thumbnail_height":546,"description":"\ud83e\uddd1\u200d\ud83d\udcbc Identitas Penulis Nis Syifa&#8217;ur Rahma, S.K.M Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Puput Nur Fajri, S.KM (Video Developer) Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro \u201cPernah nggak, seharian duduk depan layar? Bangun tidur pegang HP, sekolah duduk, pulang lanjut scroll, malam rebahan lagi. Tanpa sadar, ini yang disebut gaya hidup sedentary\u2014kurang gerak dan kebanyakan duduk. Masalahnya, kebiasaan ini bukan cuma bikin badan pegal, tapi juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi, bahkan sejak usia remaja.\u201d Silakan tonton video berikut hingga selesai agar Anda mendapatkan pemahaman yang lebih dengan judul &#8220;Remaja Mager? Hati-hati Risiko Diabetes &amp; Hipertensi!&#8221; *Jika video tidak tampil, mohon muat ulang halaman atau periksa koneksi internet Anda.* Segmen 1 \u2013 Kenapa Remaja Sekarang Rentan Kurang Gerak? (\u00b11 menit) Di era digital, hampir semua aktivitas bisa dilakukan sambil duduk. Belajar online, main game, nonton series, sampai ngobrol pun lewat layar. Data menunjukkan, remaja yang kurang aktivitas fisik cenderung mengalami: Kenaikan berat badan Daya tahan tubuh menurun Gangguan metabolisme gula dan tekanan darah Kalau dibiarkan terus, risiko diabetes dan hipertensi bisa muncul lebih cepat dari yang kita kira. Segmen 2 \u2013 Dampak Kurang Gerak bagi Tubuh (\u00b11 menit) Saat tubuh jarang bergerak: Gula darah lebih sulit dikontrol Lemak menumpuk lebih cepat Jantung dan pembuluh darah jadi kurang sehat Awalnya memang nggak terasa. Tapi dalam jangka panjang, kebiasaan mager bisa jadi pintu masuk berbagai penyakit serius. Segmen 3 \u2013 Tips Anti Mager: Gerak Simpel tapi Konsisten (\u00b12 menit) Tenang, kamu nggak harus jadi atlet buat hidup aktif. \ud83d\udca1 Ini beberapa cara simpel biar tetap aktif: Targetkan 30 menit gerak per hari Jalan cepat, bersepeda, skipping, atau olahraga ringan di rumah sudah cukup. Putus waktu duduk terlalu lama Setiap 1 jam duduk, berdiri dan stretching minimal 3\u20135 menit. Manfaatkan aktivitas harian Naik tangga, jalan kaki ke warung, bersih-bersih rumah\u2014semua dihitung olahraga. Olahraga bareng teman Main futsal, badminton, atau dance bareng bikin lebih seru dan nggak terasa capek. Mulai dari yang kamu suka Nggak harus ikut tren, yang penting bergerak dan konsisten. Segmen 4 \u2013 Penutup &amp; Ajakan (\u00b130\u201345 detik) Ingat, remaja aktif hari ini adalah dewasa sehat di masa depan. Jangan tunggu sakit dulu baru bergerak. Mulai sekarang, kurangi mager, tambah gerak. Tubuh sehat, pikiran juga ikut kuat. \ud83d\udcaa Author : Nis Syifa&#8217;ur Rahma, S.K.M Video Developer : Puput Nur Fajri, S.KM"}