Health Guidance Indonesia

Jangan Salahkan Laut. Mikroplastik Juga Bisa Lahir dari Kepala Kita.

🧑‍💼 Identitas Penulis

Lenci Aryani Lenci Aryani, S.KM., M.Kes
Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro
Scopus ID: 57331146400
Sinta ID: 6682846
Haikal Haikal, S.KM., M.KM (Editor)
Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro
Scopus ID: 57330903300
Sinta ID: 6731731

Bayangkan ini: Anda makan cilok di pinggir jalan, minum es teh pakai sedotan plastik, terus pulang dan cuci baju dengan deterjen cair sambil scroll video pendek sampai baterai 5%. Hidup biasa-biasa saja. Sampai suatu hari Anda baca berita “mikroplastik ditemukan dalam tubuh manusia” dan cilok yang barusan dimakan terasa seperti sedang balas dendam diam-diam.
Kita sering mengira ancaman kesehatan tampil dalam bentuk yang mengerikan: virus ganas, asap pabrik, sampai air banjir yang bikin gatal-gatal tiga hari.
Nyatanya? Ancaman paling serius sekarang justru kecil banget, nggak kelihatan, dan tidak pernah minta izin sebelum masuk ke tubuh: yaitu mikroplastik.
Dan sebelum Anda bertanya, “kok bisa masuk?”, jawabannya sederhana: kita sendiri yang buka pintu. Monggo, Pinarak.
Datang tak diundang, Pulang tak Pulang Pulang.
Mikroplastik itu plastik yang ukurannya kecil, kecil banget (di bawah 5 milimeter). Ia serpihan plastik yang rontok dari botol minum, serat pakaian sintetis, bungkus makanan, dan semua barang yang kita gunakan sambil berkata, “Ah ini cuma sekali pakai, kok.”
Masalahnya, plastik itu kuat. Ia tidak membusuk, tidak lapuk, dan ketika ukurannya mengecil, ia bukan hilang, tapi berubah bentuk menjadi mikroplastik yang bisa nongkrong di sungai, laut, ikan, garam, dan… maaf ya… di feses manusia.
Ada studi yang bilang mikroplastik juga ditemukan di paru-paru dan plasenta, tapi tenang, kita di Indonesia masih akan bilang, “Halah, belum tentu juga bikin sakit.” “Kuat, bangsa ini Kuat”.
 
Penelitian Ini Menunjukkan Sesuatu yang Menarik (dan Sedikit Bikin Deg-degan)
Di Fakultas Kesehatan Udinus, ada penelitian yang mencoba melihat dari mana kita harus mulai menghadapi mikroplastik. Bukan dari laut, bukan dari pabrik, tapi dari kepala dan sikap manusia. Dua hal yang sering lebih susah diatur daripada limbah plastik itu sendiri.
Penelitian ini mengukur dua hal: sikap kesehatan dan literasi kesehatan.
Sikap itu soal: “Saya peduli nggak sih sama kesehatan saya?”
Literasi itu soal: “Saya ngerti nggak sih informasi yang saya baca?”
Dan hasilnya? terdapat hubungan positif antara keduanya.
Artinya: orang yang ngerti, biasanya lebih peduli.
Orang yang peduli, biasanya lebih mau berubah.
Orang yang mau berubah, biasanya lebih siap menghadapi mikroplastik.
Simpelnya gini: kalau Anda tahu plastik panas bisa lepas bahan kimia, Anda mungkin tidak akan lagi menghangatkan rendang dalam wadah plastik karena malas cuci piring.
 
Mikroplastik Tidak Datang dari Planet Lain, Ia Datang dari Dapur Sendiri
Selama ini, banyak orang menganggap persoalan lingkungan sebagai sesuatu yang “jauh di sana”, ia adalah urusan pemerintah, lembaga penelitian, atau aktivis yang turun ke jalan.
Namun penelitian ini memberi perspektif baru: bahwa pemahaman tentang isu lingkungan, termasuk mikroplastik, dipengaruhi oleh hal yang justru paling dekat: Sikap dan Pengetahuan kita sendiri.
Ia hadir lewat hal kecil yang kita anggap sepele:
Daribaju olahraga bahan polyester yang rontok waktu dicuci,
Darisnack kesukaan anak yang dibungkus plastik berlapis tiga,
Darisampah plastik mie instan plus bumbunya yang entah gimana sampai ke selokan.
Bukan salah laut.
Bukan salah angin.
Salah kita yang memulai.
Dan jika kita tidak peduli, mikroplastik akan kembali ke tubuh kita.
 
Jadi, Kita Harus Apa?
Tidak perlu tiba-tiba tinggal di hutan dengan sendal kulit kerbau.
Tidak perlu berhenti makan cilok.
Tidak perlu mengoleksi totebag yang dilipat kecil kecil agar muat dilemari.
Yang bisa kita lakukan justru hal kecil, tapi konsisten: kurangi plastik sekali pakai, jangan memanaskan makanan dalam wadah plastik, pilih barang yang lebih tahan lama, baca informasi kesehatan lebih lengkap daripada hanya judulnya dan percaya riset, bukan broadcast grup keluarga.
Langkah kecil ini tidak akan bikin mikroplastik hilang dari bumi dalam semalam.
Tapi setidaknya kita telah berusaha, sebaik-baiknya usaha.
 
Penutup: Ancaman Kecil dengan Pelajaran Besar
Mikroplastik mengingatkan kita bahwa tidak semua ancaman datang dengan suara keras. Ada yang masuk pelan-pelan, menyelinap lewat kebiasaan sederhana yang kita anggap remeh, lalu tiba-tiba jadi masalah global yang bikin jutaan orang mengandung mikroplastik berbulan bulan.
Dari penelitian ini, pelajarannya terlihat sederhana:
pengetahuan membuat kita paham,
kepedulian mendorong perubahan,
dan perubahan lahir dari kebiasaan, bukan paksaan.
Lama-kelamaan, mikroplastik bukan cuma statistik yang kita baca di berita, tapi cermin kecil yang memantulkan diri kita sendiri: bahwa bumi bukan sekadar warisan, tapi ujian kecil tentang seberapa jauh kita mau bertanggung jawab.
Sebelum kita buru-buru menuding laut, pabrik, atau “para pemilik kekuasaan”, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan menengok ke dalam: sudahkah kita menjaga diri kita sendiri?
Atau jangan-jangan, mikroplastik itu sudah lama tinggal di perut,bukan hanya di laut?

Add comment

Categories

KERJASAMA

AHLA

Kunjungi website kami untuk informasi menarik lainnya!

Visit AHLA

Most popular

Most discussed