🧑💼 Identitas Penulis
|
Dr. Drs. Slamet Isworo, M.Kes Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Scopus ID: 57189042057 Sinta ID: 6142157 |
|
Haikal, S.KM., M.KM (Editor) Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Scopus ID: 57330903300 Sinta ID: 6731731 |
Kalimantan, sering kita dengar sebagai Paru-Paru Dunia “julukan penuh harapan yang mengingatkan kita pada rimbunnya hutan tropis dan suara burung yang tak pernah benar-benar tidur.
Tapi mari jujur sebentar: pulau yang sama juga telah menjadi jantung industri batu bara Indonesia.
Di satu sisi ia memberi oksigen, di sisi lain ia menghidupkan listrik di rumah, melalui energi hitam yang digali dari dalam tanah.
Konsekuensinya tidak kecil. Tambang terbuka meninggalkan lubang-lubang raksasa, yang tak langsung sembuh begitu alat berat pergi. Hutan yang dulu rapat perlahan berubah menjadi tanah merah yang menganga, dan bersama itu hilang pula banyak kehidupan yang dulu tinggal di sana: burung enggang, orang utan, meranti, ulin dan penduduk asli. Mereka hilang, bersama rusaknya keanekaragaman hayati secara masif dan degradasi lingkungan yang parah.
Dalam empat tahun saja (antara 2010 sampai 2014) sekitar 1.901 kilometer persegi hutan di Kalimantan hilang karena tambang. Sulit membayangkannya? Begini saja: luas itu hampir dua kali lipat wilayah DKI Jakarta. Bayangkan seluruh gedung, warung padang, pom bensin, sampai ojek pangkalan menghilang, diganti hamparan tanah merah yang menganga.
Kehilangan hutan sebesar ini bukan hanya tentang pemandangan yang berubah dari hijau menjadi coklat. Ini adalah pukulan telak bagi kemampuan alam memulihkan dirinya sendiri. Lahan bekas tambang kerap disebut sebagai lahan mati, bukan tanpa alasan. Vegetasi yang coba ditanam sering layu sebelum sempat berakar, tanahnya kehilangan daya dukung, seperti menolak kehidupan baru yang ingin kembali tumbuh.
Bagi Kalimantan, luka ini bukan sekadar lubang menganga di permukaan tanah. Luka ini menyimpan tanda tanya besar tentang bagaimana ekosistem bisa terus hidup setelah industri pergi dan suara mesin berhenti. Pertanyaannya bukan hanya kapan alam pulih, tetapi apakah ia masih diberi kesempatan untuk sembuh.
Di tengah pesimisme bahwa alam mungkin tidak akan pernah pulih seperti sedia kala, muncul sebuah kabar baik dari dunia kampus. Bukan berupa janji manis atau slogan anti batu bara, tetapi temuan riset yang mencoba menjawab pertanyaan paling dasar: apakah luka alam bisa benar-benar sembuh?
Penelitian ini menelusuri delapan lokasi reklamasi bekas tambang batu bara di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Lokasinya beragam usianya, ibaratkan manusia, ada yang masih balita dan ada yang sudah remaja: ada yang baru direklamasi sekitar enam tahun, ada juga yang sudah menunggu delapan belas tahun untuk kembali hijau. Para peneliti datang bukan sekadar untuk menghitung jumlah lubang, tapi untuk melihat tanda-tanda kehidupan yang kembali: adakah pohon yang tumbuh lebih tegak, adakah perdu yang mulai berani muncul, berapa jenis tanaman yang pelan-pelan balik lagi menempati rumah lamanya.
Intinya sederhana, tapi penting. Riset ini ingin memastikan apakah reklamasi yang selama ini dipamerkan melalui spanduk dan peresmian benar-benar punya nyawa ekologis, atau hanya berhenti sebagai seremonial penanaman bibit yang kemudian dilepas begitu saja kepada nasib dan hujan.
Keajaiban Waktu: 18 Tahun Menanti Hutan Kembali Lahir
Berdasarkan temuan yang didapatkan peneliti, terdapat kesimpulan yang tegas: Waktu adalah ‘Pupuk’ Terbaik bagi Pemulihan Ekosistem Kalimantan. Penelitian ini menemukan pola yang jelas: semakin lama lahan direklamasi, semakin pulih pula keanekaragaman hayatinya. Lokasi yang usianya mendekati delapan belas tahun bukan hanya tampak lebih hijau, tetapi juga menunjukkan tanda-tanda kematangan secara ekologis. Vegetasi yang tumbuh di sana tidak lagi sekadar semak belukar yang memenuhi ruang, melainkan mulai tersusun seperti hutan sungguhan, dengan lapisan tanaman yang lebih beragam dan saling melengkapi.
Keanekaragaman spesies di lahan reklamasi juga menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Ketika para peneliti mengukur menggunakan Indeks Shannon-Wiener, nilainya bergerak naik seiring bertambahnya usia lahan. Artinya sederhana: semakin lama waktu berjalan, semakin stabil pula ekosistem yang tumbuh kembali di atas tanah bekas tambang itu.
Dari delapan lokasi yang diamati, terkumpul daftar kehidupan yang tidak sedikit jumlahnya. Para peneliti menemukan 46 jenis tanaman dari 23 famili berbeda. Bagi lahan yang pernah porak-poranda, angka ini bukan sekadar statistik—ia adalah bukti bahwa tanah yang pernah terluka pun masih punya tenaga untuk menyambut kehidupan baru.
Spesies Langka yang tumbuh di Lahan Mati
Bagian paling menarik dari temuan ini adalah adanya potensi konservasi tak terduga. Di tengah vegetasi yang tumbuh, peneliti menemukan kehadiran spesies yang sangat berharga dan langka, yaitu Jati Ungu (Peronema canescens), sebuah flora yang oleh lembaga konservasi global digolongkan sebagai sangat terancam punah (Critically Endangered).
Kehadiran Jati Ungu di lahan bekas tambang adalah sebuah game changer. Ini mengirimkan pesan penting: dengan perencanaan dan pengelolaan yang serius, lahan yang dulunya dianggap sebagai biang keladi kerusakan lingkungan dapat diubah menjadi benteng perlindungan bagi spesies flora yang terancam punah.
Lahan-lahan ini bukan hanya ditanami ulang; ia sedang tumbuh kembali menjadi habitat yang berfungsi dan mampu menopang kehidupan. Temuan ini menunjukkan bahwa reklamasi berbasis ilmu bukan sekadar urusan memenuhi aturan, tetapi langkah nyata berkontribusi aktif pada penyelamatan warisan hayati Indonesia.
Hutan yang Beragam: Resep Rahasia di Balik Keberhasilan Ekologis
Jika waktu adalah kuncinya, lalu apa resep teknis agar reklamasi pascatambang benar-benar berhasil dan berkelanjutan? Studi ilmiah ini memberikan panduan praktis yang sangat berharga bagi perusahaan dan pemerintah.
Temuan paling krusial adalah penekanan pada Strategi Spesies Campuran. Para peneliti dengan tegas menyimpulkan bahwa upaya revegetasi (penghijauan kembali) yang menggunakan berbagai jenis spesies secara konsisten menghasilkan keanekaragaman hayati yang jauh lebih tinggi dan ketahanan ekologis yang lebih baik dibandingkan sistem penanaman monokultur (satu jenis tanaman saja).
[Image comparing monoculture vs mixed-species reforestation]
Praktik monokultur, seperti menanam hanya satu jenis pohon perkebunan (misalnya karet, Hevea brasiliensis), mungkin terlihat cepat menghijaukan lahan, tetapi terbukti membatasi proses suksesi alami dan menghambat kembalinya spesies lain. Hutan yang sehat dan stabil adalah hutan yang beragam, dan ini hanya bisa dicapai melalui penanaman campuran yang meniru kompleksitas ekosistem asli.
Pionir dan Faktor Lingkungan Tak Terduga
Dalam upaya memulihkan lahan bekas tambang, ada satu hal yang jarang diakui secara terbuka: tidak semua tanaman punya mental baja untuk menjadi yang pertama tumbuh di tanah yang sudah kehilangan “ingatan ekologisnya.” Di sinilah spesies pionir seperti Akasia dan Sengon tampil duluan layaknya pasukan pembuka jalan. Mereka tangguh, tidak mudah tersinggung oleh tanah miskin nutrisi, dan punya kemampuan memperbaiki kualitas tanah sambil memberi naungan bagi tanaman lain yang masih menunggu waktu tepat untuk muncul.
Namun, studi ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan jangka panjang bukan hanya urusan siapa yang ditanam, tetapi juga di mana dan dalam kondisi apa mereka bertahan hidup. Faktor lingkungan non-hayati ternyata punya peranan besar dalam menentukan siapa yang menyambung hidup dan siapa yang menyerah di tengah jalan. Lokasi dengan kelembaban yang stabil dan hembusan angin yang cukup justru memberi peluang lebih besar bagi spesies untuk beragam dan menyebar; semacam AC alami yang membuat tanaman betah bertahan. Sebaliknya, suhu yang terlalu panas atau curah hujan yang datang seperti amukan emosi membuat banyak tanaman kesulitan menjejakkan akar. Bahkan kemiringan lereng dan tutupan lahan bisa menentukan apakah hutan baru akan tumbuh seperti orkestra atau bubar seperti grup band SMA.
Intinya sederhana, tetapi sering terlupakan: reklamasi bukan sekadar menancapkan bibit dan menunggu keajaiban. Ia adalah seni menata ulang hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan tempat mereka berpijak. Ketika pilihan spesies tepat, iklim mikro dikelola dengan bijak, dan karakter tapak diperhitungkan, lahan bekas tambang tidak lagi tampil sebagai luka yang menganga, tetapi sebagai lanskap yang perlahan menemukan napasnya kembali.
Jika upaya ini dijalankan dengan konsisten, Kalimantan tidak hanya punya harapan untuk memulihkan hutan yang rusak, tetapi juga kesempatan membuktikan bahwa paru-paru dunia tidak selamanya sesak napas. Ia bisa kembali bernapas, meski pelan dan perlahan.
Aksi Nyata: Mendorong Revolusi Reklamasi Berbasis Ekosistem
Temuan ilmiah ini bukan sekadar laporan yang berakhir di rak perpustakaan atau jadi lampiran pengajuan naik jabatan. Ia terdengar seperti mandat yang menepuk bahu Indonesia pelan tapi tegas: reklamasi pascatambang tidak bisa lagi sekadar menanam pohon lalu berharap alam membereskan sisanya. Kita butuh perubahan cara pandang yang lebih dalam, lebih detail, dan tentu saja, lebih sesuai dengan karakter setiap jengkal tanah Kalimantan.
Studi ini memberi arahan yang gamblang. Pertama, program pemulihan harus mulai menomorsatukan spesies asli Kalimantan, bukan hanya mengandalkan “pasukan tempur” seperti Akasia dan Sengon yang selama ini jadi maskot reklamasi. Spesies endemik bukan sekadar soal kebanggaan identitas ekologis, tetapi juga pintu menuju suksesi yang lebih natural, habitat yang ramah bagi fauna lokal, dan peluang mempertahankan keberadaan tanaman spesial seperti Jati Ungu yang makin jarang ditemui.
Kedua, tanah tidak boleh diperlakukan seperti halaman belakang rumah yang cukup disiram lalu ditinggal pergi. Ia harus dipulihkan dengan sungguh-sungguh: diberi bahan organik, dijaga nutrisi, diatur airnya. Tanah yang sehat adalah pangkal dari semua kehidupan, sementara tanah yang tidak dirawat hanya mengirim pohon-pohon muda menuju nasib yang sama: mati muda, cepat dilupa.
Dan yang tak kalah penting, pemantauan ekologis tidak boleh berhenti ketika proyek peresmian selesai dan pita sudah dipotong. Pemulihan pascatambang adalah pekerjaan yang menghitung dekade, bukan tahun anggaran. Itu berarti mengawasi lebih dari sekadar jumlah pohon; perlu memeriksa kelembapan, suhu, kecepatan angin, dan detail-detail kecil yang ternyata berperan besar dalam menentukan siapa yang tumbuh, siapa yang bertahan, dan siapa yang menyerah sebelum waktunya.
Kalau disederhanakan, studi ini mengajukan satu pesan besar: kita butuh revolusi cara merawat tanah yang pernah dilukai industri. Reklamasi harus dipahami sebagai upaya restorasi ekologis jangka panjang, bukan program selesai dalam tiga musim hujan. Karena hanya lewat komitmen penuh pada sains, detail lapangan, dan karakter lokal Kalimantan, bekas tambang bisa berubah dari lubang raksasa menjadi tempat kehidupan tumbuh lagi — pelan, tapi pasti.
Jika itu bisa diwujudkan, Kalimantan mungkin tidak akan buru-buru merebut kembali gelar “paru-paru dunia.” Tetapi setidaknya kita bisa memastikan ia masih bernapas, walau terengah, tapi masih bernapas.







Add comment